Di balik suara lantang di ruang sidang DPRD Ketapang, tersimpan kisah seorang pria dari pelosok Otang yang menempuh jalan terjal—secara harfiah dan makna—untuk memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan bagi rakyatnya. Namanya Mateus Yudi.
Sebuah motor tua, jalan tanah berlumpur, dan semangat yang tak lekang oleh hujan dan debu. Di situlah kisah Mateus Yudi dimulai.
Lahir di Otang, 1 Juli 1976, di sebuah wilayah yang barangkali hanya segelintir orang pernah dengar, ia tumbuh bersama harapan besar yang pelan-pelan ia wujudkan dengan pendidikan dan perjuangan.
Lelaki itu duduk sebagai Wakil Ketua DPRD Kabupaten Ketapang. Namun jalan menuju jabatan itu bukan karpet merah.
Mateus mengawali pendidikan dasarnya di SDN 05 Simpang Dua (1984-1990), lanjut ke SMP Usaba 2 Ketapang (1991-1994), dan menyelesaikan masa SMA di ST Yohanes Ketapang (1994-1997).
Ia kemudian melanjutkan studi ke Universitas Tanjungpura Pontianak dan mengambil gelar lanjutan di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Namun bukan hanya gelar yang ia kejar, melainkan bagaimana ilmu bisa jadi alat perjuangan.
Ia aktif di berbagai organisasi: mulai dari Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Simpang Hulu, PMKRI Santo Thomas More Pontianak, hingga Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Ekonomi Untan.
Kelak, keterlibatannya di Dewan Pertimbangan di Dewan Adat Dayak Ketapang dan pengurus Apkasindo, memperkuat pijakannya sebagai tokoh yang merangkul banyak lapisan masyarakat.
“Politik bagi saya bukan panggung kekuasaan, tapi ruang untuk menghadirkan keadilan yang bisa dirasakan masyarakat kecil,” ujarnya dalam satu sesi wawancara eksklusif dengan Analis Warta.
Sebelum terjun ke politik, Mateus sempat mengajar sebagai dosen di Widya Dharma Pontianak dan menjabat sebagai Direktur PT Labai Kelas Lestari.
Tapi kerinduan akan kampung halaman dan keinginan untuk berbuat lebih, membawanya pulang ke Ketapang dan memilih jalur legislatif.
Sudah tiga periode ia menjabat sebagai anggota DPRD. Kini, sebagai Wakil Ketua I, ia merasakan betul dinamika kebijakan dan komunikasi politik yang lebih terbuka dengan pemerintah daerah.
“Sebagai pimpinan dewan, saya bisa lebih intens berdiskusi, menyuarakan aspirasi masyarakat dengan daya dorong lebih kuat,” katanya.
Namun tidak semua perjalanan politiknya mulus. Ia pernah terjatuh dari motor saat berkampanye di daerah pemilihannya—Simpang Hulu, Simpang Dua, Laot, dan Merabu Jaya—wilayah dengan bentang geografis luas dan kondisi jalan yang memprihatinkan.
Luka itu menjadi pengingat bahwa perjuangan tak pernah bebas dari risiko, namun juga bukti bahwa ia hadir bukan dari menara gading.
Di tengah berbagai dinamika politik dan pembangunan di Kabupaten Ketapang, figur seperti Mateus Yudi menjadi pengingat bahwa pemimpin bukan hanya mereka yang duduk di kursi kekuasaan, tapi mereka yang pernah jatuh di jalan berlumpur, bangkit, dan memilih untuk tetap berjalan—demi rakyat yang mereka wakili.
Mateus Yudi bukan hanya wakil rakyat di atas kertas. Ia adalah anak Otang yang menghidupkan harapan bahwa perjuangan, seberat apapun jalannya, akan sampai pada tujuan. (sri)


