KETAPANG– Sabtu pagi, 25 Oktober, langit di atas Desa Kenanga tampak muram.
Di jalan tanah yang basah dan becek kekuningan, sebuah mobil bak terbuka berjuang menembus lumpur.
Di atasnya, seorang lelaki paruh baya terbaring lemah—napasnya tersengal.
Namanya Jarwo, warga Dusun Sungai Nibung, Kecamatan Simpang Hulu, Ketapang.
Mobil itu hendak menuju Puskesmas Balai Bekuak, sekitar satu jam perjalanan dari desa.
Namun, takdir berkata lain. Di tengah perjalanan, sebelum sampai tujuan, napas Jarwo terhenti.
Keluarga yang ikut mengantar panik. Mereka berusaha sekuat tenaga—mengurut dada, mengipasinya dengan daun, sambil terus memanggil namanya.
Isak tangis pecah di antara suara mesin mobil yang meraung tertahan di jalan rusak.
Menurut unggahan akun TikTok @Meican, Jarwo sebelumnya mengalami stroke ringan.
Sebelum dirujuk, ia masih sempat berbicara. “Mantri desa menyarankan agar beliau dibawa ke puskesmas karena kondisi jantungnya lemah dan tekanan darahnya rendah,” tulis akun tersebut.
Namun perjalanan itu menjadi berat. Jalan desa yang rusak parah membuat mobil sulit dikendalikan.
“Di saat dunia tampil mewah dan canggih, kami orang pedalaman masih bergelut dengan infrastruktur yang sama seperti 20 tahun lalu,” tulis Meican dalam unggahannya yang kini viral di media sosial.
Di dunia maya, ucapan duka mengalir. Seorang warga, Dedy Sei Marau, menulis di akun Facebook-nya:
“Selamat jalan sahabatku. Dulu setiap kali acara pernikahan saat musik saya tampil, beliau selalu menyempatkan diri menyumbangkan suara emasnya. Hari ini beliau telah tiada. Selamat jalan, Jarwo.”
Bagi warga Sungai Nibung, Jarwo bukan sekadar tetangga—ia dikenal sebagai sosok yang ramah dan gemar bernyanyi di setiap pesta desa.
Kini, kisah kepergiannya menjadi pengingat getir tentang kenyataan hidup di pedalaman Ketapang: bahwa jalan menuju layanan kesehatan masih panjang, becek, dan penuh perjuangan.
Di tengah dunia yang serba modern, di pelosok-pelosok negeri, masih ada nyawa yang hilang karena jalan menuju pengobatan tak kunjung diperbaiki. (sri)


