JAKARTA - Situs resmi PT Agrinas Pangan Nusantara dikritik karena dinilai tidak profesional, meski perusahaan ini mengelola proyek bernilai triliunan rupiah. Kritik datang dari praktisi IT, David Alfa Sunarna.
Ia menyoroti tampilan dan fungsi website perusahaan pelat merah tersebut yang dianggap jauh dari standar korporasi besar.
Padahal, Agrinas diketahui tengah mengelola proyek pengadaan 105 ribu unit pick up dari India dengan nilai kontrak mencapai Rp24,66 triliun untuk mendukung program Koperasi Desa Merah Putih.
Temuan David sederhana: website tidak berjalan semestinya. Halaman utama hanya menampilkan logo dan latar sawah dengan dua tombol—“pertanian” dan “konsultan engineering”. Bahkan video profil perusahaan tidak bisa diputar. Tautan aplikasi, kontak, hingga email di bagian bawah halaman juga tidak berfungsi.
“Klik apa pun tidak terkoneksi,” ujarnya dalam ulasan yang beredar di TikTok.
Rasa penasaran mendorongnya menelusuri lebih jauh. Ia mencoba mengidentifikasi teknologi yang digunakan—apakah berbasis JavaScript modern, AI, HTML, atau platform seperti WordPress.
Hasilnya mengejutkan. Ia menemukan indikasi bahwa situs tersebut hanya berupa embed dari Canva.
Temuan lain, situs itu sempat tidak bisa diakses. Kondisi ini memunculkan dugaan bahwa website belum digarap serius.
Di tengah tuntutan transparansi dan profesionalisme BUMN, kualitas situs dinilai menjadi cerminan kredibilitas perusahaan.
“Di era digital, website adalah garda terdepan. Kalau hanya mengandalkan Canva, wajar publik mempertanyakan,” kata David.
Tak lama setelah kritik itu mencuat, situs PT Agrinas Pangan Nusantara mendadak masuk mode maintenance atau perbaikan.
Peristiwa ini menambah daftar sorotan terhadap kesiapan digital perusahaan negara, terutama yang mengelola proyek besar dan bersentuhan langsung dengan kepentingan publik.


