KUBU RAYA – Di tengah ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kembali melanda Kabupaten Kubu Raya, Bupati Sujiwo mengungkapkan bahwa semangat gotong royong menjadi benteng utama dalam menghadapi bencana. Baginya, kolaborasi antara TNI, Polri, pemerintah, dunia usaha, hingga masyarakat telah menjadi kekuatan yang membuat Kubu Raya mampu bertahan dari kepungan api.
Hal itu disampaikan Sujiwo saat menghadiri Pencanangan Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat (BBGRM) XXIII di Taman Dirgantara Lanud Supadio, Kabupaten Kubu Raya, Selasa (28/7/2026).
Menurut Bupati Sujiwo, gotong royong bukan hanya diwujudkan melalui kerja bakti membersihkan lingkungan, tetapi juga hadir dalam situasi paling genting ketika seluruh elemen bahu-membahu memadamkan kebakaran hutan dan lahan.
"Gotong royong juga dilakukan saat memadamkan api. Itu hasil kolaborasi antara TNI, Polri, pemerintah, swasta, pelaku usaha, dan seluruh masyarakat," ujarnya.
Sujiwo mengaku, besarnya dukungan aparat TNI dan Polri memberikan kekuatan tersendiri bagi Pemerintah Kabupaten Kubu Raya dalam menghadapi karhutla yang menjadi perhatian nasional.
Ia bahkan mengungkapkan secara jujur bahwa tanpa keterlibatan personel TNI dan Polri, beban yang dipikul pemerintah daerah akan jauh lebih berat.
"Jujur, kalau enggak ada TNI-Polri mungkin saya bengkak mata saya, karena selalu meneteskan air mata. Saya sudah dalam kepasrahan. Tetapi kehadiran personel TNI dan Polri dalam membantu memadamkan kebakaran lahan benar-benar sangat kami rasakan," katanya.
Sujiwo kemudian menceritakan salah satu momen paling menegangkan yang terjadi dua hari sebelumnya. Kebakaran besar membuat seluruh armada pemadam bekerja tanpa henti hingga mengalami kerusakan, sementara api terus merangsek mendekati kawasan vital.
"Dua hari yang lalu terjadi kebakaran yang dahsyat sampai kami kehabisan armada. Dua armada milik Batalyon Teritorial Pembangunan pun amblas. Bahkan jaraknya tinggal sekitar 10 meter dari Kantor Dinas Pertanian yang hampir terbakar. Teman-teman memadamkan api dengan cara digebuk-gebruk karena sudah tidak ada sumber air," tuturnya.
Ia mengatakan, kondisi tersebut menjadi gambaran nyata betapa beratnya perjuangan petugas di lapangan dalam menghadapi kebakaran yang meluas akibat cuaca ekstrem dan keterbatasan sumber air.
Lebih lanjut, Bupati Sujiwo mengungkapkan bahwa persoalan karhutla di Kubu Raya kini menjadi perhatian serius pemerintah pusat. Bahkan, menurutnya, perhatian tersebut juga dirasakan langsung oleh jajaran TNI dan Polri di tingkat daerah.
"Kebakaran hutan dan lahan, khususnya di Kubu Raya, menjadi atensi nasional. Yang paling utama ditegur itu bukan saya. Yang pertama ditegur Pak Pangdam, yang kedua ditegur Pak Kapolda. Padahal yang mempunyai tanggung jawab utama adalah saya," ungkapnya.
Meski demikian, ia bersyukur kerja sama lintas sektor yang terus diperkuat mulai menunjukkan hasil positif. Kondisi kebakaran, katanya, perlahan mulai dapat dikendalikan, meski seluruh pihak tetap diminta tidak lengah.
Bupati Sujiwo menegaskan bahwa semangat gotong royong harus terus dipelihara, bukan hanya untuk menghadapi karhutla, tetapi juga dalam seluruh proses pembangunan di Kabupaten Kubu Raya.
"Alhamdulillah hari ini kondisinya sudah mulai mereda. Tapi kita tidak boleh lengah. Sekali lagi, semua yang kami lakukan di Kabupaten Kubu Raya adalah hasil gotong royong, baik bersama TNI, Polri, pemerintah, swasta, pelaku usaha, dunia usaha, maupun seluruh masyarakat. Dengan kebersamaan itulah kita mampu menghadapi tantangan seberat apa pun," tegasnya. (jek)


