PONTIANAK — Peringatan 45 tahun GAPKI menjadi momentum konsolidasi industri kelapa sawit nasional, khususnya di Kalimantan Barat.
Ketua GAPKI Cabang Kalbar, Aris Supratman menilai tantangan industri saat ini menuntut pelaku usaha semakin solid dalam menyikapi perubahan kebijakan dan dinamika perdagangan internasional.
Aris mengatakan, industri sawit tidak dapat berjalan sendiri-sendiri. Sinergi antarperusahaan, asosiasi, dan pemerintah menjadi kunci agar sektor ini tetap berkelanjutan sekaligus kompetitif dalam jangka panjang.
“Regulasi terus berkembang. Karena itu, kekompakan pelaku usaha menjadi faktor penting agar industri sawit tetap tumbuh,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa kontribusi sawit terhadap perekonomian nasional sudah teruji, termasuk saat pandemi COVID-19, ketika sektor ini tetap menjadi penopang ekonomi.
Saat ini, GAPKI aktif mendorong penguatan riset dan inovasi untuk meningkatkan produktivitas sawit guna menjawab kebutuhan masa depan.
Di tengah tekanan pasar global, GAPKI bersama pemerintah terus memetakan peluang agar ekspor minyak sawit mentah (CPO) dan produk turunannya tetap berjalan.
Upaya ini dinilai penting untuk menjaga arus devisa dan posisi strategis Indonesia dalam rantai pasok sawit dunia.
Untuk Kalimantan Barat, Aris mengakui jumlah perusahaan anggota GAPKI masih sekitar 20 persen.
Namun, peran GAPKI dinilai signifikan sebagai mitra pemerintah daerah dalam membahas kebijakan dan regulasi sektor perkebunan.
“Koordinasi yang baik akan menciptakan iklim industri yang sehat dan berdampak pada ekonomi daerah,” katanya.
Menjelang kebijakan ekspor 2026, GAPKI Kalbar optimistis perusahaan sawit yang telah memiliki akses pasar internasional mampu menjaga keberlanjutan ekspor.
Ia berharap kontribusi Kalbar terhadap produksi dan ekspor sawit nasional terus meningkat.
Terkait keberlanjutan, GAPKI secara konsisten mendorong anggotanya memenuhi sertifikasi ISPO.
Sertifikasi ini tidak hanya memastikan kepatuhan terhadap regulasi lingkungan dan ketenagakerjaan, tetapi juga meningkatkan nilai tambah produk melalui sistem ketertelusuran.
“ISPO memperkuat kepercayaan pasar global terhadap produk sawit Indonesia,” ujar Aris.(jek)


