KUBU RAYA — Gemerlap malam pergantian tahun di Kubu Raya tahun ini tak hanya menandai lahirnya ikon baru daerah, tetapi juga menyematkan pesan tanggung jawab kolektif.
Bupati Kubu Raya Sujiwo mengajak seluruh masyarakat dan pengunjung untuk menumbuhkan rasa cinta dan memiliki terhadap Bundaran Gaforaya dan Tugu Benteng Mangrove yang diresmikan pada Rabu (31/12/2025) malam.
Ajakan tersebut disampaikan Sujiwo sebagai pengingat bahwa ruang publik bukan hanya untuk dinikmati, tetapi juga dijaga bersama.
Ia bahkan meminta Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) menyiapkan fasilitas pendukung agar kawasan tersebut tetap bersih dan nyaman.
“Saya minta kepada Dinas PUPR agar menyiapkan tong sampah, kemudian pengunjung juga mempunyai rasa memiliki. Saya yakin dan percaya satu bulan lagi ini akan menjadi kebanggaan, bukan hanya Kubu Raya tetapi Kalimantan Barat,” ujar Sujiwo.
Sujiwo mengungkapkan, pembangunan Bundaran Gaforaya dan Tugu Benteng Mangrove sejatinya belum sepenuhnya rampung.
Masih dibutuhkan waktu sekitar satu hingga satu setengah bulan untuk menyempurnakan seluruh pekerjaan.
Namun, kuatnya aspirasi masyarakat membuat pemerintah daerah memutuskan untuk meresmikannya lebih awal, tepat pada malam pergantian tahun.
“Kita ini pelayan rakyat. Maka apa yang diinginkan oleh rakyat, itulah yang harus kita ikuti. Sebenarnya ini belum selesai, bahkan masih memerlukan waktu satu bulan sampai satu bulan setengah. Tapi masyarakat menyampaikan, Pak Bupati kami ingin malam tahun baru ada area untuk berkumpul, mohon kiranya diresmikan,” kata Sujiwo.
Ia pun berharap, dalam waktu satu bulan ke depan, kawasan Bundaran Gaforaya dan Tugu Benteng Mangrove dapat benar-benar tuntas dan siap dimanfaatkan sebagai ruang publik pada momen-momen besar, seperti perayaan Imlek dan Idulfitri.
Menariknya, peresmian pada malam tahun baru kali ini dilakukan tanpa pesta kembang api.
Sujiwo menegaskan, keputusan tersebut diambil sebagai bentuk empati dan solidaritas terhadap para korban bencana alam di Aceh dan Sumatra.
“Walaupun sebagian sudah menyiapkan kembang api bahkan durasinya mencapai satu jam hingga satu setengah jam, disimpan dulu. Mudah-mudahan duka ini segera berlalu, sehingga nanti Imlek dan Idul Fitri kita bisa menyalakan kembang api bersama-sama,” ujarnya.
Malam tahun baru di Kubu Raya pun akhirnya menjadi lebih dari sekadar perayaan. Ia menjelma sebagai pengingat bahwa ruang publik adalah milik bersama, dan empati sosial tetap menjadi cahaya utama dalam setiap kemeriahan. (jak)


