JAKARTA — Media sosial ramai membahas pernyataan Presiden RI Prabowo Subianto yang disebut meminta Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk membangun sumur air bersih di daerah bencana dengan anggaran sekitar Rp150 juta per sumur.
Di tengah perbincangan tersebut, sejumlah netizen ramai-ramai membagikan (spill) pengalaman mereka membuat sumur bor mandiri dengan biaya jauh lebih murah, bahkan ada yang mengklaim hanya sekitar Rp5 juta per sumur, tergantung kedalaman dan kondisi tanah.
“bikin sumur bor, Cuma butuh waktu empat jam, biayanya cuma lima juta tiga ratus ribu rupiah, “ tutur netizen pada akun TikTok Kmedia.
“Baru seminggu lalu kita buat sumur bor untuk usha air galon isi ulang kedalaman 80 meter, biaya Cuma Rp 19 juta,” tambah akun TikTok, Mir.
Perbandingan ini memicu diskusi publik soal efisiensi anggaran, perbedaan spesifikasi teknis, serta konteks pembangunan di wilayah bencana.
Sejumlah warganet mengingatkan bahwa proyek pemerintah biasanya mencakup komponen tambahan seperti survei geologi, instalasi pompa industri, jaringan distribusi air, hingga standar keamanan dan pertanggungjawaban anggaran negara.
Sementara itu, hingga kini belum ada penjelasan resmi rinci dari pihak terkait mengenai detail spesifikasi teknis, lokasi, maupun komponen biaya yang membentuk angka Rp150 juta per sumur tersebut.
Perbincangan ini menunjukkan tingginya perhatian publik terhadap transparansi anggaran dan efektivitas program penyediaan air bersih, khususnya bagi masyarakat terdampak bencana. (git)


