Beranda / Berita / Daerah / BMKG Bekali Petani dan Nelayan...
Daerah

BMKG Bekali Petani dan Nelayan Kubu Raya, Bahasa Langit Dibumikan untuk Ketahanan Pangan

27 Agustus 2026
2 menit membaca
Admin
BMKG Bekali Petani dan Nelayan Kubu Raya, Bahasa Langit Dibumikan untuk Ketahanan Pangan

Pemasangan tanda peserta SLCN dan SLI Tematik di Aula Kantor Desa Limbung, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kamis (27/8/2026).

Bagikan:

KUBU RAYA - Informasi cuaca dan iklim bukan sekadar data teknis. Bagi petani dan nelayan, informasi tersebut dapat menjadi pijakan untuk mengambil keputusan di lapangan. Karena itu, BMKG terus mendorong literasi cuaca dan iklim melalui Sekolah Lapang Iklim (SLI) dan Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN). Hal itu disampaikan Ketua Tim Kerja Deputi Klimatologi BMKG Hary Tirto Djatmiko saat menghadiri kegiatan SLCN dan SLI Tematik di Aula Kantor Desa Limbung, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kamis (27/8/2026).

Hary mengatakan, program sekolah lapang merupakan bagian dari strategi BMKG untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap informasi cuaca dan iklim, khususnya bagi sektor pertanian dan perikanan.

“Sekolah Lapang Iklim dan Sekolah Lapang Cuaca Nelayan ini merupakan program atau rencana strategis BMKG, salah satunya meningkatkan pemahaman masyarakat melalui sekolah lapang dan literasi,” kata Hary.

Menurutnya, SLI diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan, sedangkan SLCN memberikan edukasi kepada nelayan agar mampu menggunakan informasi cuaca dalam menentukan aktivitas melaut.

“Kalau Sekolah Lapang Iklim untuk meningkatkan ketahanan pangan. Kalau Sekolah Lapang Cuaca Nelayan, itu berkaitan dengan edukasi masyarakat, terutama masyarakat nelayan,” ujarnya.

Hary menekankan pentingnya perubahan pola pikir masyarakat nelayan dalam memanfaatkan informasi cuaca. Informasi BMKG diharapkan tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi diterapkan sebagai dasar pengambilan keputusan.

“Bagaimana pola pikirnya dirubah, bukan mencari ikan, tapi menangkap ikan,” katanya.

Ia menjelaskan, pelaksanaan sekolah lapang telah berkembang sejak program SLI mulai diperkenalkan pada sekitar 2006–2007 dan semakin masif sejak 2011. Sementara SLCN mulai dikembangkan sekitar 2017–2018 dengan mengambil pengalaman dari pelaksanaan SLI.

Dalam perkembangannya, SLI juga tidak hanya menyasar komoditas padi, jagung, dan kedelai. Program tersebut dapat disesuaikan dengan komoditas unggulan di masing-masing daerah, termasuk kopi dan kakao.

Untuk kegiatan di Kubu Raya, Hary menjelaskan, pendekatan yang digunakan merupakan sekolah lapang tematik. Peserta mendapatkan pembekalan melalui teori dan simulasi sebelum informasi tersebut nantinya diimplementasikan di lapangan.

“Bagaimana bahasa langit bisa menjadi bahasa bumi dulu, dipahami dan diketahui masyarakat. Setelah bahasa bumi, baru mengimplementasikannya,” jelasnya.

Ia berharap peserta yang mengikuti kegiatan tersebut dapat menjadi penyambung informasi BMKG di tengah masyarakat. Dengan demikian, informasi mengenai potensi cuaca ekstrem maupun iklim ekstrem dapat diketahui lebih dini sehingga langkah antisipasi dapat dilakukan.

“Sehingga dapat mengantisipasi sebelum kejadian bencana itu ada. Harapannya dapat meningkatkan ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat nelayan dan pertanian,” pungkas Hary. (jek)

 

Tag:

SLCNSLIpesertaHaryBMKGCuaca