KAPUAS HULU — Pada sebuah Daerah Aliran Sungai (DAS) Ramut dan Batang Suhaid dahulu asri dan rimbun kini berubah wajah.
Di antara pepohonan yang tetap berdiri tenang, ratusan lanting penambang emas merapat rapat di tepian. Mengubah lorong hijau itu menjadi deretan mesin dan drum yang tak pernah benar-benar berhenti berdetak.
Ramut dan Batang Suhaid masuk dalam kawasan Desa Tanjung Kapuas dan Tanjung Harapan. Lebih tepatnya di Kecamatan Suhaid, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.
Perubahan lanskap sungai itu terbongkar dari laporan warga lokal. Sungai sungai yang selama ini mereka jaga, justru mengalir kabar tentang adanya dugaan arus uang dari aktivitas Penambang emas Tanpa Izin (PETI).
Sejumlah potongan video berdurasi singkat diterima analiswarta dari laporan warga tergambar aktivitas deretan lanting PETI di tepian sungai. Tepatnya sepanjang lintasan sungai kawasan Blaban hingga Nanga Ramut.
“Ada ratusan set lanting PETI di jalur lintasan itu,” kata warga setempat, enggan menyebut nama.
Lanting adalah rakit kayu atau rakit berbahan drum yang digunakan sebagai platform kerja penambangan emas di sungai.
Adapun set lanting, sebutan warga lokal mengarah pada satu rakit lengkap dengan mesin sedot, alat pemisah material (sluice), drum, dan tenaga kerja yang mengoperasikannya.
Sumber analiswarta menyebut, sepanjang aliran sungai sekitar 220 set lanting berooperasi. Setiap lanting ada tarif yang harus dibayar oleh pemiliknya.
Nilainya juga tidak kecil. Kisara Rp 5 jutaan, meliputi biaya sewa lahan dari segelintir orang serta biaya harian untuk pengamanan.
Informasi ini berasal dari penuturan sejumlah warga yang meminta identitasnya dirahasiakan demi keamanan.
“Dari Blaban sampai Nanga Ramut itu penuh, 220 set. Ada inkam per set, semua lewat orang-orang itu,” ujar seorang warga dengan nada hati-hati.
Meski demikian, hubungan antara lanting, pungutan dan para nama yang disebut warga masih menyelimuti sungai ini seperti kabut pagi.
Tidak semua pengakuan datang dengan keberanian terbuka. Banyak yang memilih berbicara lirih, seolah sungai itu sendiri turut mendengar.
Bagi sebagian operator lanting, kegiatan penambangan adalah sumber penghidupan satu-satunya. Mereka bekerja dari fajar hingga senja, menyisir dasar sungai demi serpihan emas yang mampu menopang keluarga.
Di tengah tekanan ekonomi, kabar mengenai setoran tambahan sering kali membuat mereka berada pada posisi serba sulit, antara bertahan atau menghentikan pekerjaan yang selama ini menjadi tumpuan.
Hingga kini, belum ada keterangan resmi dari pihak kecamatan maupun kepolisian terkait dugaan pungutan yang beredar.
Di tengah lanskap Kapuas Hulu yang elok, kisah lanting-lanting ini menjadi pengingat bahwa di balik kesunyian air, selalu ada kehidupan yang bergerak.
Dan dalam setiap gerak itu, manusia berharap dapat mencari keseimbangan antara ekonomi, tradisi dan keadilan yang menyentuh semua pihak. (mas)


