KETAPANG - “Anak-anak harus tahu bahwa orangutan sedang berjuang melawan kepunahan,” ujar Lia, Koordinator Bidang Lomba, saat membuka lomba cerdas cermat di Learning Center Sir Michael Uren, Sungai Awan, Ketapang, Kamis (13/11/2025).
Ucapannya disambut riuh semangat para peserta dari sepuluh sekolah yang berebut menjadi yang terbaik.
Lomba cerdas cermat tingkat SMP/MTS itu menjadi salah satu rangkaian Pekan Peduli Orangutan yang digelar Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) pada 10–14 November.
Para peserta mengadu pengetahuan tentang orangutan dan konservasi—tema yang diharapkan menumbuhkan kepedulian sejak dini.
“Pemenang akan mendapatkan piala, sertifikat, dan uang pembinaan,” kata Lia. “Lebih penting lagi, mereka membawa pulang pemahaman tentang penyelamatan orangutan.”
Selain cerdas cermat, kegiatan lain turut meramaikan pekan edukasi tersebut. Ada lomba bertutur untuk siswa SD/MI, ilustrasi tingkat SMP/MTS, mewarnai untuk TK/RA, hingga fashion show, senam, dan tari kreasi.
Semua agenda diarahkan untuk menanamkan nilai konservasi lewat cara yang menyenangkan.
Namun di balik suasana ceria itu, YIARI Ketapang menghadapi kenyataan yang lebih kompleks. Rizky Asta Jusman, petugas gizi Orangutan Protection Unit, menceritakan bahwa ada 62 orangutan yang kini berada dalam pengawasan mereka.
Setengah dari jumlah itu masih dalam tahap rehabilitasi dan belum bisa dilepasliarkan. “Sebagian dipelihara manusia sejak kecil. Kalau langsung dilepas, mereka bisa tidak mampu menyesuaikan diri,” katanya.
Rizky menuturkan ada empat hingga lima orangutan yang hampir pasti tidak akan kembali ke hutan. Mereka ditempatkan di area khusus berbentuk hamparan yang dibatasi parit, disebut sebagai “pulau”.
Para penjaga menjadwalkan pelepasannya setiap hari agar mereka tetap terbiasa dengan lingkungan semi-liar.
“Orangutan punya ego dan perasaan. Mood mereka harus dijaga,” ujarnya.
Tantangan lain muncul ketika beberapa individu mencoba membuat jembatan dari ranting untuk melintasi pagar listrik ringan yang menjadi batas wilayah.
Upaya ini dilakukan bukan untuk menghukum, melainkan mencegah mereka bersinggungan dengan warga di luar area rehabilitasi.
YIARI hanya bertanggung jawab pada orangutan non-liar, sementara orangutan liar berada di bawah kewenangan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).
Di lahan rehabilitasi seluas 100 hektare itu, orangutan diberi makan tiga kali sehari dengan bahan yang dipasok dari petani lokal. Selain merawat satwa, YIARI juga aktif mengedukasi masyarakat tentang cara bersikap jika berhadapan dengan orangutan di alam.
Untuk orangutan yang telah menunjukkan kemampuan beradaptasi, pelepasliaran dilakukan di kawasan Tanjung Pura. Sebelum rilis, lokasi disurvei untuk memastikan ketersediaan pakan dan kecocokan populasi liar.
Pemeriksaan kesehatan dilakukan berkala sebagai syarat mutlak rilis. Proses ini menjadi tanggung jawab bersama YIARI dan BKSDA. (sri)


