Inovasi kuliner tak lagi lahir dari dapur profesional. Di Pontianak, lima siswa jurusan teknik komputer justru menyita perhatian lewat rendang jengkol bercita rasa nanas, mematahkan batas antara teknologi dan tradisi kuliner.
Suasana Lokakarya Kuliner Lokal Kalbar Bersama Generasi Muda SMKN 4 Pontianak, Kamis (23/10/2025), berubah riuh ketika sebuah stan bertuliskan slogan “Pertama di Dunia” menarik rasa penasaran pengunjung.
Di balik stand itu, tersaji kuliner bernama Renjena, akronim dari Rendang Jengkol Nanas—perpaduan berani dua bahan lokal Pontianak yang memiliki aroma dan karakter kuat.
Renjena diciptakan oleh lima siswa jurusan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) SMKN 4 Pontianak: Fransisca, Firnanda, Fayyad, Chito, dan Arumny, dengan bimbingan guru pengampu Jaringan Komputer, Revi Rahmat.
Produk ini menjadi sorotan utama dalam lokakarya yang digelar bertepatan dengan HUT Kota Pontianak, sebagai bagian kerja sama Universitas Terbuka (UT) Pontianak dan SMKN 4 Pontianak.
“Kami ingin menunjukkan bahwa anak TKJ tidak hanya bisa menghubungkan jaringan internet, tapi juga bisa menghubungkan rasa di lidah masyarakat,” ujar Fransisca sambil tertawa ringan.
Ia menjelaskan bahwa pemilihan jengkol dan nanas bukan tanpa alasan. Keduanya dianggap memiliki karakter khas yang mencerminkan keunikan budaya Pontianak—kuat, segar, dan tak terlupakan.
Guru pembimbing, Revi Rahmat, menilai Renjena menjadi pembuktian bahwa kreativitas generasi muda tidak terbatas pada jurusan atau latar keahlian tertentu.
“Inovasi bisa datang dari mana saja. Anak teknik juga bisa membuat produk kuliner bernilai ekonomi dan budaya,” ujarnya.
Pengunjung yang mendatangi stan Renjena disambut dengan pantun khas Pontianak, menambah suasana interaktif dan mengundang senyum. Salah satu pantun yang menjadi favorit berbunyi:
Jengkol dimasak dalam belanga,
Ditambah nanas harum baunya.
Rasanya gurih manis menyapa,
Renjena hadir menggoyang selera.
Pantun ini berhasil menciptakan kedekatan emosional antara produk dan pengunjung, sekaligus mempertegas nilai budaya dalam inovasi kuliner tersebut.
Selain menawarkan sensasi rasa gurih-manis yang tidak biasa, Renjena diposisikan sebagai kuliner yang mampu memperluas potensi pangan lokal Kalimantan Barat.
Bahan jengkol dan nanas dipilih bukan hanya karena rasa, tetapi karena ketersediaannya melimpah di daerah ini.
“Kalau biasanya rendang identik dengan daging sapi, kami ingin memberikan alternatif yang lebih terjangkau sekaligus unik,” ujar Firnanda.
Produk Renjena mendapat respons positif, bahkan sebagian pengunjung menanyakan peluang pemasaran dan pengemasan secara komersial.(ril)


